Orientasi seksual adalah keterikatan seksual antara satu manusia terhadap manusia lain yang sesama jenis (homoseksual) ataupun lawan jenis (heteroseksual). Biasanya, anak tidak menyadari bahwa dirinya adalah penyuka sesama jenis pada usia 20 atau 30 tahunan.

Menariknya, ketertarikan secara seksual kepada sama spesiesnya bukan lagi fenomena baru dalam kerajaan binatang. Beruang grizzly, gorilla, monyet, burung flamingo, burung hantu, penguin, dan masih banyak jenis hewan lain memiliki kecenderungan menyukai sesama jenis. Sekitar 6-10% dari spesies domba jantan menunjukkan ketertarikan seksual pada domba jantan lainnya.

Dan saat ini Indonesia sedang heboh dengan pemberitaan tentang pengesahan nya LGBT. Yah, pecinta sesama jenis ini membuat masyarakat Indonesia heboh. Pasalnya Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim dan muslim sangat melarang dengan adanya LGBT. Tak hanya Indonesia saja, banyak negara lain nya yang juga mengesahkan adanya LGBT ini. Namun tak seperti di Indonesia yang mencekal hal ini, justru di luar negeri banyak sekali orang-orang yang mendukung adanya LGBT. Sebenarnya darimana sih asal nya LGBT dan sejak kapan adanya LGBT ini. Penasaran kah Anda? Yuk, cari tahu lebih dalam tentang LGBT.

Sejarah LGBT

Abad ke-21 merupakan abad ‘kemenangan’ kaum homoseksual di Barat. Agama Kristen (yang menjadi agama mayoritas masyarakat Barat) tak mampu membendung sepak terjang aktivis gerakan pendukung homoseksual. Perilaku homoseksual di negara-negara Barat tidak lagi dikategorikan sebagai perilaku abnormal sejak Asosiasi Psikiatri Amerika (APA) mengeluarkan homoseksual dari daftar penyakit mental atau Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) pada tahun 1973.

Saat ini, siapa saja yang menentang homoseksual justru dituduh sebagai homophobia yaitu mereka memiliki ketakutan dan kebencian terhadap aktivitas homoseksual. Eksistensi kaum homo semakin menjadi sorotan dunia ketika putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat pada 26 Juni 2015 melegalkan pernikahan sesama jenis. Meskipun Belanda menjadi negara pionir yang mengakui pernikahan pasangan homo sejak tahun 2001, namun dengan legalisasi negara yang dianggap superpower seperti Amerika, membuat kelompok pendukung kaum homo di berbagai negara mengalami euforia termasuk di Indonesia.

Sejarah homoseksualitas dapat ditilik dari zaman atau masa Mesir Kuno, sementara itu sikap masyarakat terhadap hubungan sesama jenis telah berubah dari waktu ke waktu dan berbeda secara geografis. Bermula dari mengharapkan semua pria terikat dalam hubungan sesama jenis, dalam kesatuan sederhana, melalui penerimaan, dalam pemahaman praktik tersebut merupakan dosa kecil, menekannya melalui penegakan hukum dan mekanisme pengadilan, hingga dalam pengharaman hubungan tersebut praktik homoseksual dijerat dengan hukuman mati.

Istilah homoseksual atau homosexual sendiri secara literal berasal dari homo dalam Bahasa Yunani yang berarti sama (sejenis) dan sex dari Bahasa Latin yang berarti seks. Istilah homoseksual pertama kali muncul pada tahun 1896 dalam Bahasa Jerman pada pamflet yang ditulis oleh Karl-Maria Kertbeny, berisi advokasi untuk menghapuskan Prussia’s Sodomy Law. Ia memunculkan istilah homoseksual sebagai pengganti istilah sodomite atau pederast yang bersifat merendahkan dan waktu itu lazim digunakan secara luas di kalangan masyarakat berbahasa Jerman dan Prancis. Prussia adalah negara Jerman pertama yang menghapuskan hukuman mati bagi pelaku sodomi pada tahun 1794.

Dalam kumpulan kajian sejarah dan etnografi budaya pra-industri, “penolakan terhadap homoseksualitas dilaporkan sebesar 41% dari 42 budaya. Sebesar 21% budaya menerima dan/atau mengabaikan homoseksualitas, dan 12% melaporkan tidak ada konsep seperti itu. Dari 70 catatan etnografis, 59% melaporkan homoseksualitas tidak ada atau jarang terjadi dan 41% menunjukkan homoseksualitas ada atau dianggap biasa.”

Dalam budaya yang dipengaruhi oleh agama-agama Abrahamik, hukum dan gereja menetapkan sodomi sebagai pelanggaran terhadap hukum Tuhan atau kejahatan terhadap alam. Namun, penjatuhan hukuman kepada pelaku seks anal dari kalangan homoseksual sudah tercatat sejarah sebelum lahirnya agama Kristen. Hal ini dilaporkan sering terjadi pada zaman Yunani Kuno; “ketidakwajaran” ini dapat ditelusuri kembali hingga ke era Plato.

Banyak tokoh sejarah yang diduga gay atau biseksual seperti Socrates, Lord Byron, Edward II, dan Hadrian. Sejumlah ilmuwan, seperti Michel Foucault, menganggap pelabelan gay atau biseksual ini berbahaya bagi pengenalan anakronistik sebuah konstruksi seksualitas kontemporer yang tidak muncul pada masa itu, tetapi banyak kalangan yang menentang ini.

Argumen umum kalangan konstruksionis menyatakan bahwa tidak ada seorang pun pada zaman kuno atau Abad Pertengahan yang mengalami homoseksualitas sebagai suatu karakteristik penentu seksualitas yang bersifat eksklusif dan permanen. John Boswell membalas argumen ini dengan mengutip tulisan-tulisan Yunani kuno Plato, yang menggambarkan individu-individu tersebut menunjukkan homoseksualitas eksklusif.

Apakah LGBT Kelainan dan Faktor Genetik?

Keberadaan LGBT masih mengundang pro dan kontra di kalangan masyarakat. Alasannya jelas, perilaku mereka bertentangan dengan nilai agama dan budaya di Indonesia. Lalu, seperti apa pandangan psikolog tentang bekeradaan kaum LGBT?

Psikolog Klinis dan Hipnoterapi menerangkan, dalam ilmu psikologi dan kamus besar kejiwaan, LGBT tidak masuk dalam gangguan jiwa yang dialami seseorang. Kondisi yang mereka alami dianggap keunikan pada diri orang tersebut. Itu berarti homoseksual juga bukan kelainan. Konflik yang dialami homoseksual justru banyak muncul dari luar dirinya, yakni dari keluarga atau lingkungannya. Misalnya orang tua atau lingkungan mereka menekan, baru mereka mulai menderita. Banyak teori yang menyebutkan sebab-sebab homoseksual atau LGBT. Teddy mengungkapkan, meski sampai hari ini belum ada teori yang pasti. Ia sendiri cenderung meyakini penyebab LGBT karena faktor biologis.

Faktor biologis terdiri dari faktor genentik, kemudian faktor hormonal terutama pada saat anak dalam kandungan. Teori lain adalah yang diungkapkan Sigmund Freud tentang perkembangan psikososial. Ada juga yang mengungkapkan teori pengalaman seksual masa kecil. “Jadi ada beberapa penyebab homoseksual, kalau dia itu genetik ada kelainan di otak, di hormon, apakah salah dia? Apakah salah orang tuanya? Apakah dia patut dihukum, disingkirkan? Orang tuanya tidak ingin anaknya seperti itu, si anak tidak ingin seperti itu. Jadi kita harus berpikir jernih di sana,”

Dr. Robert Spitzer seorang psikiatris dari Columbia University adalah tokoh penting yang berjuang menghilangkannya dari daftar kelainan. Namun pada tahun 2003 dia mempublikasikan penelitiannya terhadap 200 homo, yang ternyata menunjukkan keberhasilan perubahan orientasi seksual setelah menjalani terapi. Artinya seorang homoseks bisa menjalani terapi untuk menjadi normal.

Jelas bukan bahwa ini bisa diterapi, bukan hakekat yang tak bisa berubah. Dengan segera dia mendapat tekanan dari komunitas gay dan akhirnya Spitzer mencabut kembali hasil penelitian yang dipublishnya. Spitzer dikritik atas sikap tidak profesionalnya itu oleh psikolog seperti; Jerry A, Elton L,Moose Anne, dll. Jangan lupa bahwa pendapat para psikolog soal homoseksual juga terpecah dan patut dipelajari latar belakang dan argumentasi orang yang berteori sehingga kita bisa berpendapat objektif.

Faktor Penyebab LGBT Pada Manusia

Banyak penelitian yang melaporkan bahwa orientasi seksual (termasuk homoseksualitas) sedikit banyak sudah ditentukan semenjak dalam kandungan, berkat kode genetik khusus yang membedakan homoseksual dengan heteroseksual, yaitu Xq28. Lalu muncul pertanyaan, apakah faktor biologis lainnya — mulai dari struktu otak, trauma, hingga hormon — juga bisa memengaruhi kecenderungan homoseksualitas seseorang?

  • Trauma masa kecil

Ada satu penelitian yang dilakukan di Kinsey Institute kepada seribu orang penyuka sesama jenis dan 500 orang ke penyuka lawan jenis. Penelitian ini mengamati kondisi psikologis yang mungkin memengaruhi apakah seseorang adalah penyuka sesama jenis (homoseksual) atau penyuka lawan jenis (homoseksual), misalnya hubungan orangtua-anak, pengalaman seksual di masa kanak-kanak, hubungan dengan teman sebaya, dan pengalaman berpacaran.

Hasilnya menyatakan bahwa penyuka sesama jenis mengalami salah satu atau lebih dari ketiga situasi traumatis berikut: Mereka yang menyatakan dirinya sebagai gay/lesbian tidak lebih disayang oleh ibunya, ditinggalkan oleh ayahnya, dan/atau pernah setidaknya satu kali mengalami kekerasan seksual jika dibandingkan dengan penyuka lawan jenis (Bell dkk., 1981; Hammersmith, 1982).

  • Saudara kandung

Ray Blanchard pada tahun 1997 dan 2008 dan Anthony Bogaert pada tahun 2003 menghasilkan penelitian yang menyatakan bahwa laki-laki yang memiliki kakak laki-laki cenderung penyuka sesama jenis. Alasan penyebab gay dari penelitian ini masih belum ditemukan, namun Blanchard menyatakan bahwa hal ini berhubungan dengan imun ibu ketika mengandung anak. Antibodi ibu yang lebih kuat dibandingkan janin “melarang” untuk adanya perkembangan pola perilaku pria pada umumnya. Sejalan dengan alasan ini, hanya sesuai dengan saudara laki-laki yang lahir dalam kandungan ibu yang sama.

  • Bentuk otak

Ada kesamaan bentuk otak pria penyuka pria (gay) dengan wanita penyuka pria dan kesamaan ini juga ditemukan pada struktur otak dari wanita penyuka wanita (lesbian) dengan pria penyuka wanita. Kesamaan itu adalah salah satu ukuran sel pada hipotalamus yang berada pada otak (LeVay, 1991). Penelitian ini dilakukan oleh Simon LeVay (1991), seorang ilmuan penyuka sesama jenis, yang ingin mencari jawaban mengenai orientasi seksualnya.

Tapi, masih ada kebimbangan LeVay; apakah otak yang menentukan orientasi seksual atau sebaliknya? Penelitian lain yang dilakukan oleh Larkin dkk (2002) dan Roselli (2002, 2004) pada domba, menyatakan bahwa ada perbedaan ukuran hipotalamus pada domba homoseksual dengan yang tidak.

  • Genetik

Salah satu kecurigaan para ilmuwan terhadap penyebab gay pada manusia muncul dari kode genetik unik Xq28. Meski demikian, ilmuwan belum dapat memastikan bahwa gen tersebut adalah faktor utama di balik asal usul penyebab gay.

Menariknya lagi, sepasang anak kembar identik lebih cenderung untuk menjadi penyuka sesama jenis dibandingkan pada kembar fraternal (Langstrom dkk, 2008) inilah yang menjadi alasan mungkin saja gen gay benar adanya. Tapi bagaimana bisa? Karena pada kenyataanya, orang dengan orientasi homoseksual tidak mungkin memiliki keturunan langsung dengan pasangan sesama jenisnya. Hal ini terjawab oleh penelitian yang dilakukan oleh Boclandt dkk pada tahun 2006. Penelitian itu menyatakan bahwa garis turunan dari ibu yang membuat gen gay bertahan.

  • Hormon kehamilan ibu

Penelitian pada domba hamil yang disuntikkan hormon testosterone pada periode kritis perkembangan janin menghasilkan keturunan perempuan yang menunjukkan perilaku homoseksual (Money, 1987). Pada manusia, terkena hormon yang ada pada janin perempuan baik kepada calon bayi berjenis kelamin perempuan atau laki-laki akan menyebabkan calon bayi ini tertarik kepada laki-laki di masa yang akan datang.

Apakah LGBT Menular?

Tidak, Anda tidak bisa tertular atau menularkan homoseksualitas. Meskipun Anda memiliki teman dekat atau anggota keluarga yang gay, Anda tidak akan ikut jadi gay kalau secara biologis Anda memang tidak memiliki potensi homoseksual. Sebuah penelitian yang berlangsung dari tahun 1994 hingga 2002 menguak bahwa homoseksualitas tidak menyebar dalam pergaulan remaja di Amerika Serikat dan Inggris. Penelitian yang dimuat dalam jurnal Archives of Sexual Behavior ini berhasil mematahkan mitos kalau berteman dengan orang gay atau lesbian akan membuat seseorang jadi gay.

Bolehkah Berteman dengan LGBT?

Seorang ahli bedah saraf dari RS Mayapada menegaskan bahwa orientasi seksual tidak bisa ditularkan. Masyarakat mengira bahwa bergaul dengan orang gay akan membuatnya jadi gay juga. Padahal menurut dr. Roslan ini hanya karena orang tersebut pada dasarnya sudah punya bakat gay secara biologis. Kemudian dia akan bergaul dengan orang yang senasib atau sepemikiran juga dengan dirinya.

Pada orang yang sudah punya bakat homoseksual sejak lahir, ia lalu menemukan kesamaan dengan orang homoseksual lainnya. Hal ini membuatnya jadi lebih percaya diri dan nyaman dengan identitasnya. Lama-lama ia pun bisa menerima dan mengakui bahwa dirinya memang terlahir gay. Inilah mengapa banyak orang salah sangka bahwa gay itu menular.

Bila Anda tidak punya bakat gen homoseksual, tak perlu mengkhawatirkan apakah gay menular. Orientasi seksual tak akan berganti hanya karena Anda bergaul dengan seorang homoseksual. Sama halnya dengan Anda yang heteroseksual tidak bisa menularkan orientasi Anda pada orang homoseksual. Seperti dijelaskan oleh dr. Roslan, orientasi seksual tidak bisa diubah karena memang tak perlu. Menjadi seorang homoseksual bukan kesalahan, melainkan keberagaman.