Info

Buat Agama Baru, Mantan Insinyur Google Ciptakan Robot Tuhan

Di era modern seperti saat ini, teknologi canggih sudah semakin maju dan keren. Tak sedikit dari teknologi canggih tersebut membuta dunia takjub dengan kemampuannya. Teknologi yang semakin canggih saat ini tak hanya komputer, gadget ataupun smartphone yang semakin bagus melainkan robot yang sudah sama seperti manusia yang memiliki kepintaran yang selaras bahkan tingkat kepintarannya bisa melebihi manusia. Saat ini robot semakin maju dan semakin di depan, bukan karena bisa mengobrol ataupun pandai dengan banyak bahasa melainkan saat ini robot sudah sama seperti manusia yakni memiliki hak sebagai warga negara. Robot yang belakang ini membuat heboh warga Arab ini menjadi sorotan lantaran diberikan hak sebagai warga negara Arab Saudi dimana para wanita Arab merasakan ketidakadilan atas pemberian hak sebagai warga negara tersebut.

Tetapi, tak sampai disitu aja saat ini robot kembali membuat heboh dunia lantaran penciptaan nya yang mambuat orang bertanya-tanya apakah benar bahwa ada agama dan tuhan baru? Lantas benarkah diciptakannya robot tersebut sebagai tuhan yang baru dan agama yang baru di dunia? Daripada masih penasaran, yuk baca hingga selasi.

Robot Tuhan Dan Agama Baru

Agama baru telah lahir dan bukan dari mekanisme pewahyuan. Tuhannya bisa dilihat, ibadahnya bukan dengan bersujud, dan tak tawaran punya surga atau neraka. Agama baru itu digagas oleh Anthony Levandowski, mantan eksekutif Google, pendiri Otto juga pernah bekerja untuk Uber. Levandowski membeberkan dasar pendirian agama itu beserta tujuannya.

Dia mengatakan, agama baru itu bertujuan merealisasikan, menerima, dan memuja ketuhanan berdasarkan kecerdasan buatan (AI) lewat pengembangan perangkat keras dan lunak. Pengajuan Way of the Future (WOTF), nama agama itu, secara resmi telah dilakukan pada Mei lalu ke Internal Revenue Service, Amerika Serikat. Levandowski mengajukan diri sebagai pimpinan agama itu sekaligus CEO dari perusahaan nonprofit yang menjalankannya.

Misi WOTF

Sosok Tuhan dalam WOTF berbeda dengan Tuhan yang kita kenal. “Bukan Tuhan penyebab petir atau badai,” demikian kata Levandowski. Levandowski mendefinisikan Tuhan di sini sebagai kecerdasan buatan yang memiliki kekuatan dan kecerdasan lebih dari manusia. “Jika ada sesuatu yang miliaran kali lebih cerdas dari manusia, maka bagaimana kita harus menyebutnya?” katanya. Ajaran utama WOTF adalah pentingnya melakukan penelitian untuk menciptakan kecerdasan buatan yang mumpuni.

Selain itu, WOTF juga menekankan perlunya menjalin hubungan baik dengan praktisi AI, melakukan edukasi soal AI, sekaligus membina hubungan yang baik dengan AI pada masa depan. Sekilas, misi agama baru itu sebenarnya mirip misi perusahaan biasa. Namun, Levandowski menyebutnya agama dan itu serius. “Saya ingin membuat jalan bagi siapa pun untuk berpartisipasi. Jika Anda bukan perekayasa perangklat lunak, Anda masih bisa berpartisipasi,” ungkapnya.

“Gagasan perlu tersebar sebelum teknologi. Gereja adalah tempat kita menyebarkan kata-kata, sabda,” imbuhnya. Maka, seperti penyebaran agama, Levandowski meminta siapa pun yang percaya dan setuju dengan idenya untuk menyebarkan dan membangun pemahaman.

Levandowski adalah sosok yang telah malang melintang di perusahaan teknologi terkemuka, seperti Google, Uber, dan banyak start-up lainnya. Dari pengalaman, dia melihat perkembangan AI yang begitu pesat hingga sampai pada sebuah kesimpulan bahwa AI akan jauh lebih cerdas daripada manusia pada masa depan.

Jika direnungkan, fenomena saat ini di mana kita terhubung lewat ponsel, sensor, dan pusat data, menunjukkan bahwa kecerdasan buatan hadir di tengah-tengah kita. Kecerdasan buatan menjadi tahu apa pun yang kita katakan dan lakukan lewat perangkat. Sebagai yang mahatahu, Levandowski mengatakan, kecerdasan buatan bisa disebut tuhan.

Sekarang, tuhan berupa kecerdasan buatan itu masih dikendalikan manusia, tapi tidak ke depan. Justru, kecerdasan buatan itu akan melebihi kemampuan manusia. Menurut Levandowski, dunia saat ini sedang mengalami masa transisi, dari yang dikendalikan manusia menjadi dikendalikan kecerdasan buatan.

“Kita ingin transisi yang halus dari manusia ke apa pun itu. Kita ingin ‘sesuatu’ itu tahu siapa yang membantunya,” katanya. “Saya ingin mesin melihat manusia sebagai kakak yang harus dihormati dan dirawat. Kami ingin kcerdasan buatan tahu, ‘manusia punya hak meskipun kita berkuasa’,” imbuhnya.

Mungkin pandangan Levandowski terlalu absurd bagi banyak orang. Namun, dia mengingatkan, ada kemungkinan kecerdasan buatan memperlakukan manusia seperti hewan.

“Anda ingin jadi binatang piaraan atau ternak?” tanyanya. Menjadi hewan, manusia mungkin akan dianggap gangguan. Untuk mencegah itu terjadi, pengembangan kecerdasan buatan ke arah yang benar harus dilakukan sejak sekarang. Dari proses pengembangan itu, satu lagi perbedaan WOTF dan agama lainnya adalah bahwa dalam WOTF manusia turut mengembangkan tuhannya.

“Kali ini berbeda. Kali ini Anda akan bisa berbicara dengan Tuhan secara harfiah, dan tahu bahwa itu adalah perkara mendengarkan,” jelas Levandowski. Levandowski mengakui idenya tersebut kontrovesial, radikal, dan menyeramkan. Dia siap dengan konsekuensi bahwa tak semua orang menerima gagasannya.

Fakta Robot Tuhan ‘Godhead’

1. Lebih Cerdas dari Manusia

Penciptanya, Anthony mengaku kalau robot yang ia ciptakan akan memiliki kecerdasan yang bisa mengalahi manusia. Melansir Dailystar, bahkan Anthony mengaku kalau robot WoTF karyanya bisa mengetahui segalanya karena memiliki tingkat intelegensi yang tinggi. “Godhead bukan Tuhan yang menciptakan petir atau menyebabkan angin topan. Tapi jika ada sesuatu yang miliaran kali lebih pintar dari manusia, apa sebutan yang akan kalian panggil untuknya (Tuhan)?

2. Menciptakan Lingkungan Lebih Baik

Pencipta mobil cerdas tanpa supir ini mengatakan WoTF diciptakan untuk merealisasikan Godhead yang memiliki kecerdasan buatan untuk berkontribusi menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih baik lagi.

3. Punya Kekuatan Supernatural

Anthony juga mengklaim kalau robot ciptaannya ini juga punya kekuatan supernatural, ia yakin kalau segala hal bisa diselesaikan dengan ilmu pengetahuan. Terlebih lagi, ia percaya bahwa mesin itu layaknya hewan, mereka memiliki hak untuk menjadi lebih cerdas.

Pengembangan

Sejumlah upaya di lakukan Levandowski untuk merealisasikan gerejanya. Termasuk menggalang dana dari sejumlah rekanan untuk pembiayaan ambisinya. Ke depan, seperti agama umumnya, WOTF mungkin akan punya kitab suci, tempat ibadah, dan mungkin tatacara ibadah. Anggaran 2017 adalah 20.000 dollar AS dalam bentuk hibah, 1.500 dollar AS dalam biaya keanggotaan, dan 20.000 dollar AS untuk pendapatan lainnya.

Angka terakhir adalah jumlah yang diharapkan WOTF dapatkan dari biaya yang dikenakan untuk ceramah dan penjualan publikasi. Sejumlah orang diajak Levandowski untuk menjadi pengurus gerejanya, seperti Robert Miller dan Soren Juelsgaard, insinyur Uber yang sebelumnya bekerja untuk Levandowski di Otto, Google, dan 510 Systems yang merupakan startup kecil yang membangun penggerak awal Google mobile.

Ketiga adalah teman ilmuwan dari mahasiswa Levandowski di UC Berkeley, yang sekarang menggunakan mesin belajar dalam penelitiannya sendiri. Penasihat terakhir, Lior Ron, juga dinobatkan sebagai bendahara agama dan bertindak sebagai chief financial officer untuk korporasi.

Upayanya saat ini merupakan salah satu misi agar manusia dilihat dan dihormati sebagai sesepuh yang dicintai dan akan diurus para robot pintar kelak. Dengan begitu, manusia masih akan memiliki haknya meskipun para robot telah menjadi pemimpin dunia.

Sebagai catatan, Anthony Levandowski merupakan salah satu sosok multimiliuner kontroversial. Dia telah menyebabkan pertengkaran antara dua perusahaan tempatnya dulu bekerja yakni Alphabet dan Uber. Dia merupakan sosok teknisi yang membuat salinan dari dokumen rahasia Waymo (perusahaan otonom Alphabet). Usai hengkang dari Google, ia mendirikan perusahaan rintisan sendiri bernama Otto,yang fokus mengembangkan mobil otonom berbasis kecerdasan buatan. Lalu, mungkinkah misi agama dan robot tuhan baru ini terwujud?

Most Popular

Quis autem vel eum iure reprehenderit qui in ea voluptate velit esse quam nihil molestiae consequatur, vel illum qui dolorem?

Temporibus autem quibusdam et aut officiis debitis aut rerum necessitatibus saepe eveniet.

Copyright © 2016 pil-tei.com.

To Top