History

Mengenal Lebih Jauh Tentang Holocaust Dan Faktanya

Anti-Semit, atau sikap anti-Yahudi tengah menimpa bangsa Yahudi. Secara serentak, masyarakat dunia menyatakan penolakan terhadap bangsa yang satu ini. Krisis ekonomi global turut pula mempengaruhi, bahkan Yahudi dituding sebagai penyebab semua kekacauan yang ada sekarang ini. Dari segala hujatan dan penolakan itu, Yahudi kembali menggunakan lagu lama untuk membela dirinya; Holocaust. Sebelum kita berlanjut, apakah anda tau apa itu Holocaust? Nah, jika anda dan kalian semua yang belum tau apa itu Holocaust mari kita simak penjelasan tentang Holocaust.

Apa itu Holocaust?

Holocaust adalah peristiwa pemusnahan hampir seluruh Yahudi Eropa oleh Nazi Jerman dan kelompoknya selama Perang Dunia II. Orang Yahudi sering menyebut peristiwa ini sebagai Shoah, istilah Ibrani yang berarti malapetaka atau bencana hebat. Holocaust sendiri berasal dari bahasa Yunani, holo yang artinya seluruh, dan caustos yang berarti terbakar.

Secara asal, holocaust artinya adalah persembahan api atau pengorbanan religius dengan pembakaran. Konon, Nazi Jerman dipercaya telah memusnahkan sekitar 5,6 sampai 5,9 juta orang Yahudi, setidaknya angka inilah yang selalu didengung-dengungkan dan dikampanyekan oleh Yahudi.

 

Holocaust tidak lepas dari kebencian Jerman kepada Yahudi. Perang Dunia I (PD I) menyisakan Jerman sebagai pecundang, dan Jerman tanpa tedeng aling-aling menyebut Yahudi sebagai pengkhianat yang membuat negara Bavarian itu hancur. Hal itu diperkuat dengan kejadian pada akhir PD I, sekelompok Yahudi mengobarkan revolusi ala Bolshevik Soviet di negara bagian Jerman, Bavaria.

Kontan, Yahudi dianggap sebagai bangsa yang berbahaya. Ketika Nazi naik panggung politik, kebijakan yang menekan Yahudi pun diterapkan. Hak-hak Yahudi dicabut, harta benda mereka disita, rencana untuk mengusir mereka keluar Jerman dirancang, sampai, konon, pemusnahan fisik yang berarti pembantaian.

Musim semi 1941, Nazi mulai membantai Yahudi di Uni Soviet yang dianggap sebagai sumber hidup Bolshevisme. Orang Yahudi disuruh menggali lubang kubur mereka sendiri, kemudian ditembak mati. Musim gugur tahun yang sama, Nazi meluaskan pembantaian ke Polandia dan Serbia.

Kamp pembantaian untuk Yahudi mulai dibangun di Auschwitz, Dachau, Bergen-Belsen. Kamp itu dilengkapi kamar gas dan tungku besar. Mereka menggunakan kamar gas untuk membunuh orang Yahudi. Beberapa orang Yahudi dimasukkan ke dalam kamar gas, kemudian gas Zyklon-B, sebuah gas pestisida berbahan dasar asam hidrosianik, dialirkan.

Tapi apa memang seperti itu? Pada 1964, Paul Rassinier, korban holocaust yang selamat, menerbitkan The Drama of European Jews yang mempertanyakan apa yang diyakini dari Holocaust selama ini. Dalam bukunya, ia mengklaim bahwa sebenarnya tak ada kebijakan pemusnahan massal oleh Nazi terhadap Yahudi, tak ada kamar gas, dan jumlah korban tidak sebesar itu.

Arthur Butz menulis The Hoax of the 20th Century: The case against the presumed extermination of European Jewry pada 1976. Ia mengklaim bahwa gas Zyklon-B tidak digunakan untuk membunuh orang tapi untuk proses penghilangan bakteri pada pakaian. Winston Churchill menulis 6 jilid karya monumentalnya, The Second World War, tanpa menyebut tentang program Nazi untuk membantai orang Yahudi. Eisenhower menulir memoarnya, Crusade in Europe, juga tak menyebut tentang kamar gas.

Mengenai kematian massal di Auschwitz, Robert Faurisson, profesor literatur di University of Lyons 2 mengklaim tipus-lah yang membunuh para tawanan itu, sama sekali bukan kamar gas. Seorang ahli konstruksi dan instalasi alat eksekusi dari AS, Fred Leuchter, pergi ke Auschwitz dan mengadakan penyelidikan serta tes di tempat itu.

Kesimpulannya adalah kamar gas di Auschwitz tidak mungkin digunakan untuk membunuh orang. Setelah orang-orang ini mempertanyakan kebenaran holocaust, gelombang kritisasi dan penyangkalan terhadap apa yang terjadi di holocaust mulai bangkit. Mereka yang meragukan kebenaran holocaust ini menyebut dirinya sebagai revisionis.

Nazi memperlakukan Yahudi demikian buruk, kejam, dan bengis. Nazi pernah memberlakukan pencabutan hak-hak Yahudi, penawanan di ghetto, kerja paksa, penyitaan harta benda dan deportasi dari Jerman. Namun, sampai saat ini, tak pernah ditemukan satupun dokumen atau masterplan tentang pemusnahan Yahudi di Eropa. Satu lagi, Jerman juga dengan secara tegas menyatakan bahwa jumlah 5,9 atau 6 juta korban merupakan kebohongan.

Kamar gas memang ditemukan di Auschwitz. Namun, para revisionis mengklaim bahwa kamar gas beserta Zyklon-B tidak mungkin digunakan untuk eksekusi manusia, melainkan untuk pengasapan pakaian agar bakteri-bakteri di pakaian mati. Dari prosedur kesehatan inilah, mitos pembunuhan dengan kamar gas muncul.

Museum Auschwitz, museum tentang holocaust, selama 50 tahun mengklaim bahwa 4 juta manusia dibunuh di sana. Sekarang mereka malah mengklaim mungkin hanya 1 juta korban. Revisi klaim ini pun tidak didukung oleh dokumentasi 1 juta orang tersebut. Hal yang penting lagi adalah jika memang ada pembunuhan massal di Polandia terhadap Yahudi tentu Palang Merah, Paus, pemerintah sekutu, negara netral, pemimpin terkemuka waktu itu akan tahu dan menyebutnya dan mengecamnya.

Yahudi tentu saja mengambil keuntungan dari kebohongan besar mereka ini. Mereka yang merasa menjadi korban kemudian menuntut tanah Palestina, terus meminta ganti rugi kepada Jerman, dan meminta dana pembangunan dari negara lain, dan senantiasa memelihara isu Holocaust. Tak pelak lagi, Israel selalu bersembunyi di balik Holocaust atas semua aksi keji dan biadabnya.

Fakta Tentang Holocaust

Pada Perang Dunia II, diceritakan Nazi di bawah komando Hitler telah membunuh banyak kaum Yahudi, yaitu sejumlah 6 juta orang. Cerita ‘dongeng’ ini beredar luas di masyarakat (terutama negara-negara timur seperti kita) tanpa adanya bukti otentik tentang kejadian tersebut, dan tanpa pengakuan dari ahli sejarah yang kapabel, kecuali orang Yahudi sendiri tentunya.

Cerita ini langsung menjadi sebuah dogma yang seolah-olah benar ketika diceritakan secara berulang-ulang, bahkan film yang ‘mendokumentasikan’ tragedi ini diproduksi, sehingga seolah-olah tragedi itu benar terjadi. Yang paling sering menipu masyarakat adalah biasanya di dalam film atau foto termuat gambar mayat bertumpukkan dengan sangat banyak. Padahal mayat itu sendiri tidak sampai ratusan ribu jumlahnya.

Dan tidak ada konfirmasi itu adalah orang Yahudi, hanya judulnya saja yang Yahudi kemudian diberikan gambar seperti itu, masyarakat akan tertipu bahwa itu adalah orang Yahudi(walaupun tidak sepenuhnya salah)dan berjumlah banyak (langsung percaya pada angka 6 juta karena rata-rata belum pernah melihat mayat sebanyak itu). Lalu seperti apa cerita sebenarnya?

Cerita Sebenarnya dan Kemustahilan Holocaust

Di Perang Dunia II, Nazi melakukan peperangan dengan banyak bangsa. Peperangan ini tentu saja menimbulkan banyak korban. Bahkan di pihak Nazi sendiri mencapai jumlah 9 juta orang, dan 5,1 juta orang menjadi tahanan(Rana I. Aloy, anggota Komite Pendataan Holocaust AS-Polandia). Bahkan, musuh Nazi, Rusia(Uni Soviet kala itu) pasukannya dibantai hingga paling tidak 25 juta orang (sutradara Hollywood, Oliver Stone).

Stone juga membeberkan bahwa lobi Yahudi di Gedung Putih sangat kuat. Ia mengatakan itu semua ketika diwawancarai Sunday Times. Lalu berapakah korban dari pihak Yahudi sendiri? Seorang pengamat Iran, Doktor Muhammad Taqi Pour mengatakan, dari jumlah keseluruhan warga Yahudi Jerman yang mencapai 600 ribu orang, 400 ribu di antaranya atas perintah Hitler telah meninggalkan Jerman sebelum perang dunia II dikobarkan.

Ini berarti tinggal tersisa sekitar 200 ribu kaum Yahudi di Jerman. Pernyataan ini dikuatkan oleh pernyataan dari Pastor Inggris, Richard Williamson yang mengatakan bahwa korban di pihak Yahudi hanya sekitar 200 hingga 300 ribu orang. Tidak sampai 5% dari 6 juta bahkan.

Selain pernyataan dari pihak-pihak di atas masih banyak lagi bukti yang membuat tragedi ini semakin ganjil.

Pada era perang dunia II tidak ada laporan mengenai pembunuhan massal orang-orang yahudi. Dalam laporan Palang Merah Internasional dan perundingan sejumlah pejabat negara penentang Nazi, juga tidak disebutkan keterangan soal pembakaran orang-orang Yahudi oleh Nazi. Rezim Zionis saja yang terlalu membesar-besarkan tragedi pembantaian orang-orang Yahudi. Bukti lainnya adalah bahwa, dalam dokumen pemerintahan Nazi, Hitler tidak pernah menginstruksikan pembantaian massal terhadap orang-orang Yahudi.

Bahkan tidak ada catatan mengenai pengalokasian dana besar untuk program tersebut. Karena, program pembantaian enam juta orang Yahudi itu tentu menelan dana BESAR dan rencana yang matang. Persoalan lain yang menyebabkan tragedi Holocaust itu sulit diterima adalah, Jerman tidak mempunyai fasilitas untuk melakukan pembantaian massal tersebut. Pihak Zionis mengklaim bahwa para serdadu Jerman membantai orang-orang Yahudi dengan menggunakan gaz beracun Zyclon-B, dan kemudian membakar janazah mereka kamp konsentrasi.

Bagi negara yang sedang dilanda perang besar, melakukan aksi pembantaian massal di negara jajahannya adalah tindakan yang sangat tidak logis dan akan menelan biaya sangat besar. Disamping itu, apa perlunya pasukan Nazi meracuni orang-orang Yahudi terlebih dahulu baru kemudian membakar jenazah mereka?

Poin lain yang disinggung oleh seorang mantan guru besar universitas di Perancis, Profesor Robert Faurisson adalah, orang-orang Yahudi hanya dijadikan BUDAK di kamp-kamp Nazi. Dan Nazi sama sekali tidak memiliki kepentingan untuk membantai mereka. Karena tindakan tersebut sama halnya dengan membuang tenaga mereka dan tenaga kerja sia-sia.

Faurisson dan sejumlah orang yang sepaham dengannya menilai tragedi Holocaust sebagai sebuah sebuah dongeng karya orang-orang Zionis. Menurut keterangan para pengamat, ruang-ruang gas yang gencar dipublikasikan oleh Rezim Zionis itu, sebenarnya adalah ruang sterilisasi atau penyemprotan gas anti bakteri pada pakaian dan badan jenazah. Yang sebenarnya terjadi adalah, pada era PD II khususnya akhir perang tersebut, berbagai penyakit menular seperti wabah dan tipes menjangkiti para tahanan di kamp konsentrasi Nazi.

Oleh karena itu, cara antisipasi dan penanganai wabah tersebut adalah dengan menyemprotkan zat anti bakteri dan membakar pakaian serta jenasah yang telah terkontaminasi virus. Dan fenomena ini dipandang sebagai peluang besar bagi orang-orang Zionis untuk mengemukakan fiksi Holocaust.

Dibiarkan Kelaparan

Menurut catatan resmi, Lehnkering – yang bermimpi menjadi perawat – meninggal dunia karena peritonitis atau radang selaput perut. Tetapi itu tidaklah benar. Perempuan ini tewas dalam kamar gas, satu dari ribuan orang yang dibunuh oleh Nazi Jerman selama berlangsungnya proyek “Aktion T4”. Proyek ciptaan Nazi itu menyasar orang-orang cacat atau difabel dan sakit yang dianggap tidak layak hidup dalam kategori Nazi.

Sekitar 70.000 orang kemudian tewas di enam lokasi di wilayah Jerman yang dikendalikan antara Januari 1940 hingga Agustus 1941. Sejatinya proyek pemusnahan massal ini merupakan bagian dari percobaan Holocaust. “Ini menjadi model pola pembunuhan massal yang akan diikuti dengan pendirian kamp-kamp pemusnahan oleh Nazi,” kata juru bicara Parlemen Jerman.

Pada saat Konferensi Wannsee digelar, orang-orang malang itu tidak lagi dimasukkan ke kamar gas. Tetapi kemarahan publik yang memaksa Nazi menghentikan proyek itu pada tahun 1941, tidak cukup untuk menyelamatkan jutaan orang dari tragedi kematian selama empat tahun berikutnya.

Banyak orang-orang cacat dan lemah secara mental dibiarkan mati kelaparan, atau sengaja diberi obat secara terus-menerus, sementara teriakan mereka meminta pertolongan tidak terdengar atau dihiraukan. Tiga tahun setelah kematian Lehnkering ini, Ernst Putzki menulis surat kepada ibunya untuk menggambarkan kondisi yang tidak manusiawi di tempatnya ditahan di Weilmuenster, di wilayah Jerman bagian barat. “Kematian karena kelaparan sangatlah berat dan tidak ada yang tahu siapa yang akan menjadi korban berikutnya,” tulisnya.

“Sebelumnya, orang-orang di sini dibunuh dan tubuh mereka dibakar saat fajar tiba. Tapi aksi ini mendapat perlawanan dari penduduk setempat,” tulis Ernst Putzki. Selanjutnya, tulisnya kembali,” sekarang kita kemudian dibiarkan kelaparan.” Surat Erns, yang dibacakan oleh aktor Sebastian Urbanski dalam upacara mengenang tragedi itu pada hari Jumat lalu, tidak pernah sampai kepada sang ibu. Ernst akhirnya berhasil diselamatkan dua tahun kemudian, tetapi dia meninggal dunia pada Januari 1945 akibat pneumonia, demikian menurut catatan resmi kematiannya.

Kaum Zionis Mempropagandakan Tragedi Holocaust

Sesuai cita-cita kaum mereka di dalam protocol of zionis , mereka harus mampu menguasai dunia dan untuk itu dibutuhkan suatu tempat pemerintahan  negara baru, Israel. Dengan menyebarkan berita fiksi holocaust tersebut mereka ‘mengemis’ dengan penuh memelas agar diberi secuil tanah untuk berdirinya ‘negara’ mereka. Dan akhirnya berdirilah sebuah negara kecil bernama Israel di tanah Palestina di sekitar tahun 1946.

 

 

Kronologi Kejadian Penting dalam Evolusi Pengingkaran Holocaust

  • 1942-1944

Untuk menyembunyikan bukti pembantaian terhadap Yahudi Eropa, Jerman dan kaki tangannya memusnahkan bukti-bukti kuburan massal di pusat pembantaian Belzec, Sobibor, dan Treblinka, dan di ribuan lokasi penembakan massal di seluruh Polandia yang diduduki Jerman, Uni Soviet yang diduduki Jerman, dan Serbia, termasuk Babi Yar, dalam sebuah operasi dengan nama sandi Aktion 1005.

  • 1943

Dalam pidato di hadapan para jenderal SS di Poznan, Heinrich Himmler, Pimpinan Reich (Reichsführer) SS (Schutzstaffel; Regu Perlindungan), mengatakan bahwa pembantaian massal terhadap Yahudi Eropa harus terus dirahasiakan, dan tidak boleh dicatat.

  • 1955

Willis Carto mendirikan sebuah kelompok ultra-kanan yang berpengaruh di Washington, DC, yang akhirnya dikenal dengan nama Liberty Lobby. Dipimpin oleh Carto hingga bangkrut pada tahun 2001, Liberty Lobby menyerukan Amerika Serikat “dengan ras murni” dan menyalahkan Yahudi atas berbagai masalah yang dihadapi AS dan dunia. Liberty Lobby mulai menerbitkan literatur pengingkaran Holocaust pada tahun 1969.

  • 1959

Publikasi antisemit seorang pendeta Amerika Gerald L. K. Smith, yang berjudul Salib dan Bendera, mengklaim bahwa enam juta bukanlah jumlah Yahudi yang tewas selama Holocaust melainkan yang berimigrasi ke Amerika Serikat selama Perang Dunia II.

  • 1964

Paul Rassinier, seorang Komunis Prancis yang pernah ditahan oleh Nazi, menerbitkan Drama Yahudi Eropa, yang mengklaim bahwa kamar gas adalah rekayasa “lembaga Zionis.”

  • 1966-67

Sejarawan Amerika Harry Elmer Barnes menerbitkan artikel di periodikal Libertarian Rampart Journal yang mengklaim bahwa Sekutu melebih-lebihkan kekejaman Nazi untuk membenarkan perang agresi terhadap kekuatan Poros.

  • 1969

Noontide Press, cabang dari Liberty Lobby, menerbitkan buku yang berjudul Mitos Enam Juta.

  • 1973

Austin J. App, dosen sastra Inggris di LaSalle University Philadelphia, menerbitkan pamflet: Tipuan Enam Juta: Memeras Rakyat Jerman dengan Mayat-mayat Palsu. Pamflet ini menjadi landasan klaim-klaim berikutnya dari para penyangkal Holocaust.

  • 1976

Profesor teknik dari Northwestern University, Arthur R. Butz, menerbitkan Kebohongan Abad Kedua Puluh: Kasus Melawan Dugaan Pembantaian Yahudi Eropa. Butz adalah penyangkal Holoaust pertama yang menggunakan kedok akademik untuk menyamarkan kebohongannya. Northwestern merespons dengan menyatakan bahwa pernyataan Butz “memalukan” pihak universitas.

  • 1977

Ernst Zündel, seorang warga negara Jerman yang tinggal di Kanada, mendirikan Samisdat Publishers, yang menerbitkan literatur neo-Nazi yang mencakup pengingkaran Holocaust. Pada tahun 1985, pemerintah Kanada menghukum Zündel karena menyebarkan informasi yang dia sadari kepalsuannya.

  • 1977

David Irving menerbitkan Perang Hitler, yang berargumentasi bahwa Hitler tidak pernah memerintahkan atau membiarkan kebijakan genosida Nazi atas Yahudi Eropa. Irving membelokkan bukti sejarah dan metode ilmiah untuk melegitimasi tesisnya.

  • 1978

William David McCalden (disebut juga Lewis Brandon) dan Willis Carto mendirikan Institut Tinjauan Kesejarahan (IHR) di California, yang menerbitkan materi dan mensponsori konferensi yang menyangkal terjadinya Holocaust. IHR menyembunyikan pesan rasis yang penuh kebencian di balik kedok penyelidikan akademik yang sah.

  • 1981

Pengadilan Prancis mendakwa dosen sastra Robert Faurisson karena memancing kebencian dan diskriminasi dengan menyebut Holocaust sebagai “kebohongan sejarah.”

  • 1984

Pada sebuah kasus yang bersejarah, pengadilan Kanada mendakwa guru sekolah negeri James Keegstra “sengaja mendukung kebencian terhadap kelompok tertentu” karena mendukung penyangkalan Holocaust dan pandangan antisemit lainnya di hadapan murid-murid kelas IPS-nya.

  • 1986

Pada 8 Juli, parlemen Israel mengesahkan undang-undang yang memidanakan pengingkaran Holocaust.

  • 1987

Bradley Smith dari California mendirikan Komite Debat Terbuka tentang Holocaust. Selama awal 1990-an, organisasi Smith memasang iklan sehalaman penuh atau editorial di lebih dari selusin koran kampus Amerika dengan tajuk “Kisah Holocaust: Seberapa Banyak yang Palsu? Kasus untuk Debat Terbuka.” Kampanye Smith turut mengaburkan batasan antara hasutan dan kebebasan berbicara.

  • 1987

Jean Marie Le Pen, pemimpin partai sayap kanan Prancis Nation Front, menyatakan bahwa kamar gas adalah sekadar “detail” dari Perang Dunia II. Le Pen mencalonkan diri sebagai presiden Prancis pada 1988 dan menduduki peringkat keempat.

  • 1987

Penulis berdarah Maroko-Swedia Ahmed Rami memulai siaran di Radio Islam, yang berbasis di Swedia. Stasiun radio ini menggambarkan Holocaust sebagai klaim Zionis/Yahudi. Radio Islam kemudian memajang Protokol Para Tetua Zion, Mein Kampf, dan teks antisemit lainnya di situs Webnya.

  • 1988

Berdasarkan permintaan Ernst Zündel, Fred Leuchter (yang mengaku sebagai spesialis metode eksekusi) melakukan perjalanan ke lokasi pusat pembantaian Auschwitz. Dia kemudian menerbitkan Laporan Leuchter: Laporan Teknis tentang Dugaan Kamar Gas Pembantaian di Auschwitz, Birkenau, dan Majdanek, Polandia, yang dikutip oleh para penyangkal Holocaust untuk menyebarkan keraguan tentang penggunaan kamar gas untuk pembantaian massal.

  • 1989

David Duke, seorang supremasis kulit putih, memenangkan kursi di Louisiana State Legislature. Duke menjual literatur pengingkaran Holocaust dari kantor legislatifnya.

  • 1990

Setelah Illinois menjadi negara bagian pertama Amerika yang mewajibkan pengajaran tentang Holocaust di sekolah negeri, Ingeborg dan Safet Sarich melakukan protes terbuka dengan menarik anak perempuan mereka, 13 tahun, dari sekolah. Pasangan Sarich juga mengirimkan 6.000 surat ke pejabat pemerintah, cendekiawan, jurnalis, dan korban selamat Holocaust dengan menyerang catatan sejarah tersebut sebagai “rumor dan dilebih-lebihkan.”

  • 1990

Pemerintah Prancis memberlakukan Undang-Undang Gayssot yang menyatakan bahwa mempertanyakan tingkat atau keberadaan kejahatan kemanusiaan (sebagaimana ditetapkan dalam London Charter 1945) adalah pelanggaran kemanusiaan. UU ini menjadi peraturan pertama di Eropa yang secara tegas menyatakan bahwa mengingkari Holocaust berarti melakukan tindakan melawan hukum.

  • 1990

Selama persidangan pidana atas Fred Leuchter oleh Negara Bagian Massachusetts, ditemukan bahwa Leuchter tidak pernah mendapatkan ijazah atau lisensi di bidang teknik. Leuchter mengakui bahwa dia tidak mendapatkan pelatihan di bidang biologi, toksikologi, atau kimia, yang semuanya penting dalam klaim Laporan Leuchter 1988, yang sering dikutip untuk mendukung klaim dari para penyangkal Holocaust.

  • 1990

Pengadilan Swedia memvonis Ahmed Rami enam bulan penjara karena “pidato kebencian” dan mencabut lisensi penyiaran Radio Islam selama setahun.

  • 1991

American Historical Association, organisasi sejarawan profesional tertua, menerbitkan pernyataan: “Tidak ada lagi keraguan sejarah, Holocaust benar-benar terjadi.”

  • 2000

Pengadilan Inggris menyatakan David Irving sebagai “penyangkal Holocaust aktif.” Irving menuntut sejarawan Emory University, Deborah Lipstadt, atas pencemaran nama baik menyusul publikasi bukunya pada tahun 1993 yang berjudul Denying the Holocaust The Growing Assault on Truth and Memory (Menyangkal Holocaust Serangan yang Terus Tumbuh pada Kebenaran dan Memori).

  • 2005

Dalam sebuah pidato yang ditayangkan televisi secara langsung pada tanggal 14 Desember, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menyebut Holocaust sebagai “mitos.”

  • 2006

Pemerintah Iran mensponsori pertemuan pada penyangkal Holocaust di Teheran yang berkedok konferensi akademik dengan tajuk “Tinjauan Holocaust: Visi Global.”

  • 2007

Pada 26 Januari, PBB mengadopsi resolusi yang mengecam pengingkaran Holocaust. Majelis Umum menyatakan bahwa pengingkaran “sama dengan menyetujui genosida dalam semua bentuknya.”

  • 2007

Uni Eropa menyetujui legislasi yang menjadikan pengingkaran Holocaust sebagai kejahatan yang dapat dihukum dengan pemenjaraan.

  • 2009

Uskup Katolik kelahiran Inggris Richard Williamson menyangkal keberadaan kamar gas dan mengecilkan jumlah pembantaian selama Holocaust. Vatikan akhirnya meminta Williamson menarik pernyataannya.

  • 2010

Bradley Smith memasang iklan pengingkaran Holocaust online pertamanya, yang muncul di situs Web Badger Herald milik University of Wisconsin pada bulan Februari. Internet—karena kemudahan akses dan penyebaran, anonimitas, dan persepsi otoritasnya—sekarang menjadi saluran utama untuk pengingkaran Holocaust.

 

Most Popular

To Top